Ya.. ungkapan tersebut menggambarkan seseorang merasa kurang dan apa yang dimilikinya tidak sebagus, seindah apa yang orang lain miliki.,
ada dua tipe untuk ungkapan ini:
-Pertama, ungkapan itu menggambarkan orang yang kurang bersyukur atas apa yang ada didalam dirinya. sehingga selalu saja merasa iri dengan apa yg orang punya. nah sikap atau sifat seperti ini menurut aku ga akan ada habisnya untuk terus-menerus diikuti, capeeeeeeee ngikutin orang terus, ga bisa jadi diri sendiri kayanya. Mulai banyak tuh disekitar aku yang begini, ga usah liat jauh" deh.. sekitar aja dulu.
Semoga aku dijauhkan dari sifat yang begitu ya Allah..
-Kedua, orang yang iri untuk lebih baik, alias termotivasi ketika dalam posisi sukses, melihat orang lain sukses, sikap ini adaah sikap yang membangun seseorang untuk lebih bisa lebih baik,. Termotivasi untuk terus belajar lebih, lebih dan lebih baik lagi.. memperbaiki diri mau berusaha adalah kuncinya...
Perlukah melihat sekitar???
perlu ga ya??? Dibilang PERLU, kayanya ga perlu-perlu amat, nah dibilang GA PERLU, ternyata kita perlu. Itu juga kali salah satu dari kehidupan sosial.
Melihat orang lain terkadang membuat kita termoptivasi, ingin maju, dan ada bonus Positif lah, ketika banyak orang yang memberikan support.
Namun ketika kita salah mengambil hikmah, Gawatnya adalah menimbulkan iri, dan Galau.. pengen kaya orang lain, yang kayanya bahagia ga ada matinya.. hahaha...
padalah belum tentu juga apa yang dilihat demikian, pasti tiap orang punya masyalah geto loh.. perasaan kita adalah orang yang paling menderita sedunia ini.. wew.. :p
Atau yang lebih gawat lagi irinya jadi dengki liat orang lain seneng,, malah yang timbul jadi sikap rese, biang gosiip, dan lain-lain yang nunjukin ga suka sama ntu orang.
Nah dibilang ga butuh tadi juga ternyata butuh, kita perlu melihat orang lain sebagai cerminan diri kita, melihat orang baiiiiiiiiiiiiiiik, tanya hati, apakah saya sudah baik??? ketika melihat orang yang jelek sifatnya?? tanya hati, apakah aku demikian??
Intinya setiap manusia itu diciptakan sempurna oleh Allah SWT, namun yang menjadikan kurang dan kekurangan itu adalah sifat jelek dari manusia itu sendiri, ya mungkin pengaruh didikan keluarga, pengalaman, lingkungan sekitar, dan bisikan setan.
Menilai orang bukan dari fisiknya, lihat dari kelebihan dan hatinya,, ^^
kita ga pernah tau apa sebenernya isi hati orang, dan fikirannya, salah diingatkan sekedarnya saja,
menghakimi bahkan menggunjingkan itu bukan wewenang atau bentuk penyelesaian yang benar. Kembali lagi tanya pada hati, ketika menghakimi dan menggunjingkan orang lain, tanya hati.. APAKAH SAYA SUDAH BENAAAAR dan Lebih baik???? Selalu tanya hati, Agar tidak menjadi pribadi yang merasa selalu benar, karna merasa selalu benar adalah salah satu dari sifat setan.
Semoga pertanyaan tersebut dapat menjadi pengingat buat diri saya dan siapapun yang pernah membaca tulisan sederhana ini. ^-^
*sekedar menulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar